Kumpulan Cerita Sex 2018 - Saat itu masih pagi, sekitar jam 6.30. Matahari mulai muncul di ufuk
timur. Udara terasa di dingin di dalam kamar dan menembus daster satin
tipis yang saya kenakan. Saya sudah terjaga cukup lama di tempat tidur
dan akhirnya bangun juga untuk ke kamar mandi, sekedar cuci muka dan
sikat gigi. Setelah minum kopi, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke
pantai di belakang cottage tempat saya menginap. Kebetulan cottage ini
mempunyai pantai yang secluded tapi indahnya luar biasa. Saya berlibur
sendirian di sini karena memang tujuannya untuk menyendiri, mumpung
kuliah juga masih libur. Itung-itung refreshing dari kehidupan kota yang
bising.
Setelah mengenakan bikini pink, mengambil novel, sunglasses Armani,
akhirnya berangkat juga saya ke pantai tersebut. Oh ya, sebenarnya risih
juga mendeskripsikan bagian tubuh sendiri, tapi rasanya kurang pas
kalau 'blank' tidak ada bayangan apa-apa. Bukan seperti yang anda
bayangkan, nothing special in me.. everything's in average size.
Usia saya 22 tahun, tinggal di kota S. Tinggi saya sekitar 160 cm, berat
50 kg. Saya berkacamata minus tapi lebih sering memakai contact lens.
Rambut hitam di-highlight merah pendek sebahu, kulit saya kuning langsat
sebagaimana warna kulit keturunan China pada umumnya. Untuk ukuran
payudara, seperti yang saya bilang tadi, rata-rata, tapi cukup bulat dan
padat. Kecuali paha saya.. ukurannya lumayan tapi proporsional kok.
Dari itu semua yang paling saya sukai adalah leher saya yang jenjang dan
sensitif serta pinggul saya yang membuat siluet tubuh saya lebih 'pas'.
Anyway, setelah jalan beberapa menit, sampailah saya di pantai itu.
Masih sepi sih kalau pagi begini, mungkin orang-orang masih baru bangun
atau sedang breakfast. Biasanya di pantai ini memang sudah umum orang
bertelanjang, malah jika ada yang ingin 'ML' disitu pun tidak dilarang
kok. Karena tidak ada partner dan tidak ada pikiran kesitu, sayapun cuek
saja, pokoknya mau santai nih ceritanya. Setelah menggelar handuk
pantai, saya pun rebahan, tengkurap sambil baca novel Harlequin yang
saya bawa tadi. Saya memang penggemar novel Harlequin, jadi ke mana-mana
bawaannya novel-novel itu saja. Ceritanya bagus, sering
nyerempet-nyerempet malah, dan itu yang bikin tambah asyik.
Baru 10-15 menitan tenggelam dalam novel, tiba-tiba saya terganggu
dengan bayangan yang menutupi halaman yang sedang saya baca. Kontan saja
saya langsung mendongak sambil mengernyit silau. Maklumlah, sunglasses
saya kacanya tidak begitu gelap, jadi kadang masih sedikit silau.
Akhirnya bersuara juga tuh si pemilik bayangan, "Sorry, Do I interrupt
you?". "Yes, if you keep standing there," jawabku judes, abis kesel sih
konsentrasiku terganggu. Mendengar jawaban ketus begitu orang tersebut
tidak marah, malah tersenyum dan bergeser ke sampingku dan berbaring di
situ. "Kalo di sini nggak menggangu kan?" tanyanya. "Oh, nggak pa-pa
kok," jawabku sambil tersenyum. Abis dia cakep sih, badannya tinggi
atletis, dadanya bidang dan rambutnya kecoklatan, kalau warna mata sih
masih belum kelihatan, abis sunglasses yang dia pakai gelap sekali. Dia
memakai celana renang Speedo yang segitiga, warna biru muda, sexy
sekali. Dijejerin cowok cakep begini lumayan asyik sih tapi nervous
juga, akhirnya novel tetap dibuka tapi tidak kebaca isinya.
Sejauh ini dia masih cuek saja, tidak melakukan tindakan apa-apa.
Tiba-tiba dia duduk (sedari tadi tiduran) dan menyapa saya, "Hai, saya
Steve. Nama kamu siapa dari tadi kok diem terus, emangnya novelnya seru
bener ya?"
Lumayan seru sih, sebelum kamu datang, batinku. "Ah nggak kok biasa aja. Kenalin, saya Sandra."
"Nama kamu manis deh, persis ama orangnya," jawab Steve.
Saya cuma tersenyum sambil say thank's saja dan mulai berpikir kalau
orang ini ada maunya kali. Benar saja, dia minta tolong untuk
mengoleskan suntan oil di punggungnya. Nih orang berani amat.. siapa
takut. Saya ambil botol minyak dari tangannya lalu saya tuangkan sedikit
di tangan dan saya oleskan ke punggungnya. Sambil senyam-senyum dia
bilang kalau olesan saya mantap dan rasanya tangan saya cocok sekali di
badannya. Tuh kan para cowok memang hobby ngegombal.
Saya kira setelah itu selesai, ternyata tidak semudah itu lolos darinya.
Karena saya sudah membantunya akhirnya dia menawarkan untuk mengoleskan
suntan oil itu ke badan saya. Alasannya sih karena dia lihat saya belum
memakainya dan sayang kalau kulit saya yang mulus ini terbakar sinar
matahari. Kembali sikap yang 'gentleman' menang.
Pertama sih, dia mengoleskan di punggung saya, pelan-pelan sambil
dipijat. Enak banget deh rasanya. Karena ada tali bikini, dia bilang
nggak enak kalau nggak dilepas dan dia menawarkan untuk membantu
melepaskan ikatan tali bikiniku. Namanya bikini kan cuma seutas tali
pegangannya, topless deh saya sekarang. Sudah telanjur basah sih,
terusin saja. Sambil memijat-mijat, Steve bilang kalau dia suka sekali
terhadap pinggul saya dan dia pijat pelan-pelan. Saya pun mengerang
pelan, karena saya pinggul saya cukup sensitif, jangankan dipijat,
dielus saja bisa bikin on kok.
Melihat respon saya, Steve malah tambah berani. Karena dapat lampu
hijau, tangannya pun mulai turun ke paha saya yang makin panas dingin.
Ternyata tangannya yang pada awalnya mengelus paha, mulai mencari-cari.
Otomatis saya buka kaki saya dan dia mulai menyingkap tali celana bikini
saya. Jarinya yang besar itu berusaha masuk ke lubang kemaluan saya.
Mana mungkin saya diam. Saya memang enjoy sih dikasih permainan jari
oleh cowok, tapi tidak terlalu suka masturbasi. Tangan Steve yang licin
karena minyak, tambah licin lagi kena juice dari liang senggama saya.
Setelah 10 menit bermain dengan jari Steve yang diwarnai dengan desahan
dan teriakan dari mulut saya akhirnya saya mendapatkan orgasme.
"You owe me one," kata Steve sambil tersenyum manis.
"OK, it's your turn to get one too," jawabku. Sudah terlihat kejantanan
Steve yang mengeras dan mengintip di bagian atas Speedo-nya. Kelihatan
sekali size-nya yang di atas rata-rata, sudah faktor genetis kali ya
kalau average size-nya orang bule di atas orang Asia. Anyway, performa
tetap lebih penting daripada ukuran khan? Para cowok setuju nggak nih?
Saya mulai melepas celana bikini saya dan dia pun melepas celana
renangnya. Wow.. nggak kuat nih.. ternyata benar dugaan semula. Dan
nggak cuman gede tapi juga keras. Setelah menjilati kejantanannya
sebentar, akhirnya saya membimbingnya masuk ke 'sarang'nya. "Aaahh.."
kita berdua menjerit (untung masih sepi) "Gila, memek kamu rapat amat..
licin tapi rapat," kata Steve. Tidak cuma Steve yang keenakan, saya juga
sih. Rasanya punya dia seperti masuk sampai mentok deh, 20 cm sih,
diameternya besar lagi.
Steve senang mmemainkan payudara saya. Dicium, dipilin-pilin, dicubit
dan dielus-elus. Selama ini saya di atas, dia menikmati tiap goyangan
naik turun yang saya buat. Dia terlihat enjoy sambil menyaksikan gerakan
payudara saya yang seirama dengan goyangan tubuh saya, semakin terasa
saat dia ikut bergoyang seirama dengan saya.
Tiba-tiba dia berguling dan membuat saya berada di bawahnya. Kaki saya
diangkat ke bahunya dan dia memasukkan kejantanannya lebih dalam lagi.
Saya pun semakin menjerit-jerit liar, "Aaahh.. Steve please, cepetin
dong.. ahh.. oh.. oh.." Keringat membasahi tubuh kami berdua. Sexy
sekali kelihatannya, tubuh kami mengkilap oleh keringat dan minyak di
bawah siraman sinar matahari pagi. Steve merasakan otot-otot kewanitaan
saya mengejang dan sesaat kemudian muncratlah cairan hangat dari dalam,
bersamaan dengan itu Steve pun mencabut kemaluannya dan memuntahkan
isinya di atas perut dan payudara saya.
Warm, smells good dan taste good too. Saya ratakan cairan steve di kedua
payudara saya dan setelah itu saya jilati jari-jari saya yang basah.
"Kamu keliahatan sangat seksi dan menantang saat kamu menjilati
jari-jarimu, enak kan maniku?" tanya Steve. "Sungguh nikmat dan
membuatku seakan melayang di langit ketujuh," jawabku sambil tersenyum
nakal. Kami berdua berbaring sejenak dan kemudian memutuskan untuk
berenang di pantai. Sungguh nikmat bercinta pada pagi hari di alam
terbuka.
. Udara
6.30. Matahari
dan
daster
di dalam
di ufuk
dingin
itu masih
jam
kamar
menembus
mulai
muncul
pagi
Saat
satin
sekitar
terasa
timur
tipis
0 comments:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.